Kamis, 19 April 2012

RUKUN ISLAM KELIMA MENUNAIKAN HAJI




Menunaikan ibadah haji adalah sesuatu yang amat dirindukan oleh setiap umat Islam, bahkan oleh yang telah menunaikannya berkali-kali sekalipun. Karena itu, bagi yang dimudahkan Allah untuk bisa menunaikan ibadah haji tahun ini agar menggunakan kesempatan emas itu dengan sebaik-baiknya. Sebab, belum tentu kesempatan menunaikan ibadah haji itu datang kembali.
Agar bisa beribadah haji dengan sebaik-baiknya, sekhusyu’ – khusyu’nya dan menjadi haji mabrur, di samping harus ikhlas kita harus memiliki ilmu yang cukup seputar bagaimana menjalankan ibadah haji sesuai dengan tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Hal-hal yang mewajibkan haji
1. Islam
2. Berakal
3. Baliqh
4. Merdeka
5. Mampu : meliputi kemampuan materi dan fisik. Barangsiapa tidak mampu dengan hartanya untuk memenuhi biaya perjalanan, nafkah haji dan sejenisnya maka ia tidak berkewajiban haji.  Adapun orang yang mampu secara materil, tetapi tidak mampu secara fisik dan jauh harapan sembuhnya, seperti orang yang sakit menahun, orang yang cacat atau tua renta maka ia harus mewakilkan hajinya kepada orang lain. Dan disyaratkan orang yang mewakilinya sudah haji untuk dirinya sendiri.

6. Dan bagi perempuan ditambah dengan satu syarat yaitu adanya mahram yang pergi bersamanya. Sebab haram hukumnya jika ia pergi haji atau safar (bepergian) lainnya tanpa mahram, berdasarkan sabda Nabi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Tidak (dibenarkan seorang) wanita bepergian kecuali dengan mahramnya.” (Muttafaq Alaih).
Jika seorang wanita pergi haji tanpa mahram maka ia berdosa tetapi hajinya tetap sah
Rukun Haji. Yang dimaksud rukun haji adalah kegiatan yang harus dilakukan dalam ibadah haji yang jika tidak dikerjakan hajinya tidak syah. Adapun rukun haji adalah sebagai berikut :
1. Ihram, Yaitu mengenakan pakaian ihram dengan niat untuk haji atau umrah di Miqat Makani.
2. Wukuf di Arafah, yaitu berdiam diri, zikir dan berdo’a di Arafah pada tanggal 9 Zulhijah.
3. Tawaf Ifadah, Yaitu mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 kali, dilakukan sesudah melontar jumrah Aqabah pada tanggal 10 Zulhijah.
4. Sa’i, yaitu berjalan atau berlari-lari kecil antara Shafa dan Marwah sebanyak 7 Kali, dilakukan sesudah Tawaf Ifadah.
5. Tahallul, yaitu bercukur atau menggunting rambut sesudah selesai melaksanakan Sa’i.
6. Tertib, yaitu mengerjakannya sesuai dengan urutannya serta tidak ada yang tertinggal.
Wajib Haji, Adalah rangkaian kegiatan yang harus dilakukan dalam ibadah haji sebagai pelengkap Rukun Haji, yang jika tidak dikerjakan harus membayar dam (denda). Yang termasuk wajib haji adalah ;
1. Niat Ihram, untuk haji atau umrah dari Miqat Makani, dilakukan setelah berpakaian ihram
2. Mabit (bermalam) di Muzdalifah pada tanggal 9 Zulhijah (dalam perjalanan dari Arafah ke Mina)
3. Melontar Jumrah Aqabah tanggal 10 Zulhijah
4. Mabit di Mina pada hari Tasyrik (tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijah).
5. Melontar Jumrah Ula, Wustha dan Aqabah pada hari Tasyrik (tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijah).
6. Tawaf Wada’, Yaitu melakukan tawaf perpisahan sebelum meninggalkan kota Mekah.
7. Meninggalkan perbuatan yang dilarang waktu ihram
Ibadah haji merupakan Rukun Islam yang ke lima, rangkaian pelaksanaan ibadah haji berlangsung lama dan melibatkan banyak jamaah dari seluruh dunia sehingga membutuhkan kekuatan fisik dan mental yang baik.

Rabu, 18 April 2012

Al Quran

h

" Ingatlah, Hanya dengan mengingat Allah-lah Hati Menjadi Tenang." (QS. Ar-Ra'd: 28)
" Karena itu, Ingatlah kepada-KU, Niscaya Aku Ingat (pula) Kepadamu." (QS. Al-Baqarah: 152) 
" Laki-laki dan Perempuan yang banyak mengingat Allah." (QS. Al-Ahzab: 35)
" Wahai orang-orang yang beriman, banyaklah kamu mengingat nama Allah dan bertasbilhlah diwaktu pagi dan petang." (QS. Al-Munafiqun 9, Ali-Imron: 41)
" Dan, ingatlah Rabbmu jika kamu lupa." (QS. Al-Kahfi: 24)

Kamis, 12 April 2012

DOA PENAWAR HATI


Doa Penawar Hati Yang Duka

 اَللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ، ابْنُ عَبْدِكَ، ابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ، وَنُوْرَ صَدْرِيْ، وَجَلاَءَ حُزْنِيْ، وَذَهَابَ هَمِّيْ.

 "Ya Allah! Sesungguhnya aku adalah hambaMu, anak hambaMu (Adam) dan anak hamba perempuanMu (Hawa). Ubun-ubunku di tanganMu, keputusan-Mu berlaku padaku, qadhaMu kepadaku adalah adil. Aku mohon kepadaMu dengan setiap nama (baik) yang telah Engkau gunakan untuk diriMu, yang Engkau turunkan dalam kitabMu, Eng-kau ajarkan kepada seseorang dari makhlukMu atau yang Engkau khusus-kan untuk diriMu dalam ilmu ghaib di sisiMu, hendaknya Engkau jadikan Al-Quran sebagai penenteram hatiku, cahaya di dadaku, pelenyap duka dan kesedihanku."

 اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحُزْنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ.

"Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari (hal yang) menyedihkan dan menyusahkan, lemah dan malas, bakhil dan penakut, lilitan hutang dan penindasan orang."

Rabu, 11 April 2012

Doa mendapatkan jodoh menurut Al Quran

 

Doa bagi wanita yang berharap jodoh :

“ROBBI HABLII MILLADUNKA ZAUJAN THOYYIBAN WAYAKUUNA SHOOHIBAN LII FIDDIINI WADDUNYAA WAL AAKHIROH”.

“Ya Robb, berikanlah kepadaku suami yang terbaik dari sisi-Mu, suami yang juga menjadi sahabatku dalam urusan agama, urusan dunia & akhirat”.

Doa bagi laki-laki yang berharap jodoh :

“ROBBI HABLII MILLADUNKA ZAUJATAN THOYYIBAH AKHTUBUHA WA ATAZAWWAJ BIHA WATAKUNA SHOOHIBATAN LII FIDDIINI WADDUNYAA WAL AAKHIROH”.

“Ya Robb, berikanlah kepadaku istri yang terbaik dari sisi-Mu, istri yang aku lamar dan nikahi dan istri yang menjadi sahabatku dalam urusan agama, urusan dunia dan akhirat”.

Doa yang lain yang bisa diamalkan tiap shalat

ALLAAHUMMAFTAHLII HIKMATAKA WANSYUR ‘ALAYYA MIN KHOZAA INI ROHMATIKA YAA ARHAMAR-ROOHIMIIN”.

“Ya Allah bukakanlah bagiku hikmah-Mu dan limpahkanlah padaku keberkahan-Mu, wahai Yang Maha Pengasih dan Penyayang”.

“ROBBI INNII LIMAA ANZALTA ILAYYA MIN KHOIRIN FAQIIR”.

Ya Robb, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku”. (Q.S. 28 : 24)

“HASBUNALLOOH WANI’MAL WAKIIL NI’MAL MAULA WANI’MAN NASHIIR”.

“Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung, Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong”. (Q.S. 3 : 173 & 8 : 40).

“ROBBANAA HABLANAA MIN AZWAAJINAA WADZURRIYYAATINAA QURROTA A’YUN WAJ ‘ALNAA LIL MUTTAQIINA IMAAMAA”.

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri2 kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami imam bagi orang2 yang bertakwa”. (Q.S. 25 : 74)





 

Doa Mohon Petunjuk Allah



Artinya: "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu curahan rahmat dari sisi-Mu, yang dengannya hatiku mendapat petunjuk, terkumpul segala yang bercerai-berai dan terhimpun segala yang terpisah-pisah, tertolak segala fitnah atas diriku dan bertambah baik urusan agamaku, terpelihara segala sesuatu yang jauh dariku dan terangkat apa yang dekat denganku, disucikan segala perbuatanku dan dicerahkan wajahku, diberi ilham menuju petunjuk dan terpelihara diriku dari segala sesuatu yang jelek." 

Do'a meminta petunjuk dan kebenaran

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالسَّدَادَ

“Allahumma inni as-alukal huda was sadaad” [Ya Allah, meminta kepada-Mu petunjuk dan kebenaran]

Dari ‘Ali, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepadanya,

قُلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالسَّدَادَ

“Ucapkanlah do’a: Allahumma inni as-alukal huda was sadaad” [Ya Allah, meminta kepada-Mu petunjuk dan kebenaran]”. (HR. Muslim no. 2725)

BENCANA ALAM

BENCANA ALAM YANG TERJADI DI INDONESIA DILIHAT MELALUI SUDUT PANDANG AL QURAN

Sebelum membahas topik ini harus kita ketahui apa arti musibah. Kata musibah itu dalam Al Quran berarti sesuatu yang menimpa manusia, baik berupa hal yang positif maupun yang negatif. Namun, dalam perkembangannya, kata musibah itu lebih berat pada konotasi negatif, yang sering diartikan bencana, padahal, jika kita kembalikan secara arti dari katanya, tidak selalu musibah itu berarti bencana, namun apa yang menimpa manusia, baik itu yang berdampak positif maupun negatif...
Dalam konteks musibah yang dimaknai dengan bencana, kita bisa menemukan dalam Al Quran beberapa kata yang berhubungan dengan bentuk bencana. Bentuk bencana yang menimpa manusia bisa berupa banjir, angin yang kencang, wabah penyakit, gempa bumi, dan lain sebagainya. Dalam kepentingannya (terjadinya semua itu), semua itu adalah musibah bagi manusia.
Musibah yang menimpa Indonesia dengan baik itu banjir, gempa bahkan gunung meletus, bisa kita jelaskan kedudukannya melalui Al Quran.
Gempa bumi, adalah salah satu musibah yang menimpa manusia. Dalam Al Quran, kita bisa menemukan kata yang berkaitan dengan gempa bumi melalui beberapa ayat ;
“Maka mereka mendustakan Syu'aib, lalu mereka ditimpa gempa yang dahsyat, dan jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka”. (QS : 29 : 37)
“Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka,” (QS : 7: 91)
“Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhan. Dan mereka berkata: "Hai Shaleh, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah)." Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka”. (QS : 7 :77-78)
“Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohonkan taubat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan. Maka ketika mereka digoncang gempa bumi, Musa berkata: "Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami? Itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah Yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya." (QS : 7 : 155)
Melalui ke-empat ayat diatas bisa kita simpulkan bahwa musibah yang Allah berikan bagi manusia terbagi menjadi dua bagian, Yang pertama ia adalah adzab, sedangkan yang kedua ia adalah ujian.
Adzab, Allah timpakan bagi mereka yang mendustakan ayat-ayat Allah, sebagaimana ayat diatas, yaitu kaum Nabi Syu’aib (QS : 29 : 37) dan Kaum Nabi Sholeh (QS : 7 :77-78) yang mendustakan para utusan Allah. Sedangkan ujian adalah sebagaimana kaum yang di utus oleh Nabi Musa untuk bertaubat (QS : 7 : 155).

Kita Lihat Fakta dari kaum terdahulu

Banyak sekali bisa kita temukan ayat dalam Al Quran yang memberikan pelajaran kepada kita tentang hal ini. Jika kita perhatikan, dari sejarah kaum-kaum  terdahulu, ada hal menarik yang bisa ambil satu kesimpulan.
Allah tidaklah akan menurunkan adzab-Nya langsung (melalui berbagai mekanisme seperti bencana alam, banjir, angin kencang, gempa, dll) kecuali pasti sebelumnya Allah telah mengutus para pemberi peringatan kepada satu kaum atas berbagai macam pelanggaran yang telah mereka lakukan, agar mereka kembali kejalan yang di-ridhoi Allah.
Fakta sejarah dari kaum terdahulu, seperti kaum Nuh, Kaum ‘Aad, Kaum Tsamud, Fir’aun, dll, memberikan pelajaran kepada kita tentang hal ini. Adzab itu barulah akan diturunkan ketika mereka telah betul-betul melampaui batas dari aturan yang Allah berikan melalui ajaran agama), dan mendustakan para utusan Allah (para Nabi dan Rasul-Nya), dan kemungkaran tersebut telah mendominasi satu kaum (atau dalam satu kaum tersebut, lebih banyak orang yang ingkar, kufur dari pada mereka yang sholeh). Dengan demikian, maka Allah ‘langsung turun tangan’ untuk memberikan pelajaran kepada mereka, dengan memberikan idzin terjadinya sebuah bencana.
Hal ini serupa jika kita perhatikan dalam konteks yang lain dalam beberapa surat lain dalam Al Quran, seperti dalam surat Al Fiil. Dalam surat tersebut, sangat jelas dinyatakan, bagaimana Allah melindungi ‘langsung’ Ka’bah dari makar kaum bergajah untuk di hancurkan, dengan mengirimkan makhluk terbang Ababil. Karena pada saat itu, manusia disekitarnya (kaum Quraisy) sudah tidak memiliki kekuasaan untuk menghalangi kemungkaran dari Raja Abrahah, maka Allah sebagaimana ayat-Nya, langsung memberikan perlindungan dan memberikan adzab kepada Raja Abrahah dan para tentaranya.
Apabila satu kaum mendustakan aturan Allah, lebih banyak kemaksiatan yang terjadi, maka tunggulah sampai Allah menurunkan adzabnya, mengapa demikian, karena fungsi dari saling menasihati di antara manusia sudah tidak berjalan dengan baik, dan melalui mekanisme ini, Allah ingin memberikan pelajaran, sekaligus mengganti manusia-manusia yang ingkar tersebut dengan hamba-hamba-Nya yang lebih baik.

Adapun Janji Allah bagi penduduk satu negeri

Sedangkan dalam ayat lain hal yang berhubungan dengan Allah, manusia dan alam selain dari pada bencana, Allah nyatakan pula melalui ayat ;
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. (QS : 7 : 96)
Ayat diatas juga merupakan satu janji Allah dan sebuah kepastian, jika satu penduduk negeri beriman dan bertakwa maka Allah akan menurunkan berbagai macam kebaikan baik dari langit dan bumi. Dan mereka yang tertimpa musibah berupa bencana, ditegaskan pula dalam ayat ini karena perbuatan mereka sendiri.
Bahwa bencana yang terjadi di Indonesia karena disebabkan keingkaran mereka sebagaimana kaum terdahulu, tetapi, marilah kita lebih introspeksi diri kita sebagai satu bangsa, sudahkah kita mewujudkan keimanan kita melalui ketakwaan yang sesuai dengan apa yang Allah perintahkan, dan juga sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw…?
Sudahkah dari para pemimpin bangsa sampai rakyat jelata menegakkan syariat sesuai dengan petunjuk Allah…?
Sebagaimana ayat ;
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. (QS : 7 : 96)
Pastilah Allah tidak akan menurunkan berbagai macam bencana yang bersifat adzab, kecuali, bencana yang terjadi di Indonesia adalah ujian bagi bangsa Indonesia yang memang telah sebaik-baiknya beriman dan bertakwa, dan bencana tersebut bertujuan agar Allah melebihkan bangsa ini melalui berbagai macam ujian, termasuk salah satunya adalah bencana alam.

BENCANA ALAM MENURUT AL-QURAN

Bencana Alam Antara Ujian dan Azab dikaitkan dalam Al-Quran

Pada saat bencana datang dan menimbulkan banyak korban bahkan kerugian yang besar seperti gempa dan tsunami di Aceh, banjir yang melumpuhkan Jakarta lalu timbul pertanyaan: Apakah musibah ini azab atau cobaan dari Allah?

Padahal sesungguhnya kita telah mempunyai jawabannya dari ayat-ayat Alquran. Ketika Allah membinasakan suatu kaum, di satu sisi hal tersebut adalah azab yang Allah timpakan kepada mereka lantaran kekufuran mereka kepada Allah swt. Namun, di sisi lain itu merupakan ujian bagi kaum yang beriman, agar mereka lebih dapat meningkatkan keimanannya kepada Allah swt.

Contoh, kisah Nabi Nuh a.s.  dalam surat ayat 25-49. Di sana Allah mengisahkan kaum Nabi Nuh senantiasa ingkar dan tidak mau beriman kepada Allah swt., maka Allah timpakan azab kepada mereka berupa banjir yang sangat besar. Bahkan, Alquran menggambarkan banjir itu datang dengan gelombang seperti gunung. (Hud: 42).

Saat terjadi banjir besar itu, Nabi Nuh melihat anaknya di tempat yang jauh terpencil. Lalu beliau memanggilnya. Namun sang anak tidak mau mengikuti, bahkan berlari ke arah bukit. Kemudian Nabi Nuh berdoa agar Allah menyelamatkan anaknya karena anak itu adalah anggota keluarganya (Nuh : 45). Namun Allah mematahkan logika manusiawi Nabi Nuh. Bagi Allah, anak itu bukan termasuk keluarga Nabi Nuh karena tidak mau beriman kepada Allah swt.

Peristiwa ini jika dilihat dari satu sisi adalah azab yang Allah timpakan kepada kaum Nabi Nuh karena keingkaran dan kekufuran mereka. Namun di sisi yang lain peristiwa itu adalah ujian dan cobaan sekaligus rahmat bagi orang-orang beriman yang mengikuti Nabi Nuh.

Bagi Nabi Nuh sendiri, kejadian tersebut merupakan ujian berat. Karena dengan mata kepalanya sendiri dari bahtera yang dinaikinya, ia menyaksikan anak kandungnya lenyap ditelan ombak besar (Hud: 43). Orang tua mana yang tega melihat anaknya meregang nyawa ditelan ombak besar, sementara ia aman di atas sebuah bahtera? Jadi, ini adalah cobaan yang begitu berat bagi Nabi Nuh, sekaligus peringatan bagi Nabi Nuh sendiri maupun bagi umatnya.

  Penyebab Terjadinya Bencana

Dalam Alquran banyak sekali diceritakan tentang musibah dan bencana yang menimpa orang-orang terdahulu. Dan, semua musibah dan bencana besar yang pernah menimpa manusia –diterangkan oleh Alquran—adalah selalu terkait dengan kekufuran dan keingkaran manusia itu sendiri kepada Allah swt. Silakan simak beberapa data di bawah ini.

Kaum Nabi Nuh, Allah tenggelamkan dengan banjir yang sangat dahsyat, yang tinggi gelombangnya sebesar gunung (Hud: 42). Hingga, tak ada makhluk pun yang tersisa melainkan yang berada di atas kapal bersama Nabi Nuh (Asyu’ara’: 118).

Kaum nabi Syu’aib, Allah hancurkan dengan gempa bumi yang dahsyat. Sampai-sampai Alquran menggambarkan seolah-olah mereka belum pernah mendiami kota tempat yang mereka tinggali. Lantaran begitu hancurnya kota mereka pasca gempa (Al-A’raf: 92).

Kaum Nabi Luth, Allah hancurkan dengan hujan batu. Alquran menggambarkan, bangunan-bangunan tinggi hasil peradaban kaum Nabi Luth menjadi rata dengan tanah (Hud: 82).

Kaum Tsamud (kaumnya Nabi Shaleh), juga Allah hancurkan dengan gempa. Mereka mati bergelimpangan di dalam rumah mereka sendiri (Hud: 67).

Fir’aun dan pengikutnya dihancurkan oleh Allah dengan ditenggelamkan ke dalam lautan hingga tidak satu pun yang tersisa (Al-A’raf: 136).

Karun beserta pengikutnya, Allah benamkan mereka ke dalam bumi sehingga kekayaannya sedikitpun tidak tersisa. Ini lantaran ia sombong kepada Allah swt. (Al-Qashash:81).

Alquran juga mengabarkan bahwa bencana atau musibah yang tidak terkait dengan kaum tertentu, penyebabnya juga sama: karena kemaksiatan, kufur, ingkar, dan mendustakan ayat-ayat Allah. Penyebab yang paling ringan adalah karena perbuatan tangan manusia sendiri yang merusak alamnya (Ar-Rum: 41-42).

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah: “Adakan perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang dahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).”(Q.S. Ar-Rum: 41)

Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.(Q.S. Al-Ankabut: 40)

Berikut adalah di antara ayat-ayat Alquran yang berbicara mengenai bencana atau azab yang menimpa suatu kaum kaum, termasuk diri kita.

Penyebab terjadi azab atau musibah adalah lantaran mendustakan ayat-ayat Allah. Padahal jika kita beriman, Allah akan membukakan pintu-pintu keberkahan baik dari langit maupun dari bumi. (Al-A’raf: 96)
Penyebab terjadinya bencana atau musibah adalah lantaran manusia menyekutukan Allah dengan sesuatu (baca: syirik), seperti mengatakan bahwa Allah memiliki anak.
Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.” Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh. Karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. (Maryam: 91)

Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (Al-Anfal: 25)