Kamis, 07 Februari 2013

KEBAHAGIAAN ITU

BAHAGIA

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
( من أصبح منكم آمناً في سربه ، معافى في جسده ، عنده قوت يومه ، فكأنما حيزت له الدنيا بأسرها )
“Barangsiapa di antara kalian yang memasuki waktu pagi hari dalam keadaan aman pada dirinya, sehat jasmaninya dan dia memiliki makanan pada hari itu, maka seolah oleh dia diberi dunia dengan berbagai kenikmatannya. 

Agar kita tidak terlalu disedihkan dan digelisahkan oleh realita kehidupan yang sedang dihadapi, mari kita simak dengan khusuk pesa-pesan Rasulullah saw dan Ahlul baitnya (sa). Berikut ini pesan-pesannya:

Rasulullah saw bersabda:
"Barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai cita-citanya, Allah akan mencerai-beraikan urusannya, memperjelas kesempitannya, menjadikan kefakiran di depan matanya, dan tidak memberikan dunia kepadanya kecuali apa yang tercatat baginya. Dan barangsiapa yang menjadikan akhirat sebagai cita-citanya, Allah akan mengumpulkan cita-citanya, menjaganya dari kesempitan, menjadikan kekayaan bersemayam dalam hatinya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan rendah dan hina.”

Rasulullah saw bersabda:
"Jika kalian melihat seorang hamba yang diam dan zuhud di dunia, maka hendaklah kalian mendekatinya, karena ia akan menyampaikan hikmah.”

Rasulullah saw bersabda:
“Zuhudlah kamu di dunia, niscaya Allah mencintaimu, dan zuhudlah kamu terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya kamu akan dicintai manusia.”

Rasulullah saw bersabda:
"Barngsiapa yang ingin dikaruniai oleh Allah ilmu tanpa belajar dan dibimbing tanpa pembimbing, maka hendaknya ia zuhud di dunia.”

Rasulullah saw juga bersabda:
"Akan ada sesudahku suatu kaum yang tidak didirikan kerajaan untuk mereka, kecuali dengan peperangan dan kesombongan; Tidak ada kekayaan kecuali dengan kesombongan dan kebakhilan. Dan tidak ada kecintaan kecuali mengikuti hawa nafsunya. Ingatlah, barangsiapa di antara kamu menjumpai zaman itu, maka hendaknya bersabar atas kefakiran walaupun mampu untuk menjadi kaya, bersabar atas kebencian walaupun bisa untuk dicintai, dan bersabar atas penghinaan walaupun bisa untuk dimuliakan. Jangan inginkan semua itu kecuali karena Allah, niscaya Allah memberikan kepadanya seperti pahala lima puluh orang yang benar.”

Setelah ditanyai tentang makna "lapang dada terhadap Islam", Rasulullah saw bersabda:
"Sesungguhnya jika cahaya telah masuk ke dalam hati, maka hati akan menjadi lapang dan luas." Kemudian beliau ditanyai: "Ya Rasulullah, apakah ada tanda-tandanya?" Beliau menjawab: "Ya! Meninggalkan kampung yang fana’, kembali pada kampung yang abadi, dan bersiap-siap sebelum kematian menjemputnya.”

Rasulullah saw bersabda:
"Hendaklah kalian malu kepada Allah dengan malu yang sebenarnya." Sahabat berkata: "Kami malu kepada Allah." Beliau bersabda: "Bukankah demikian, kalian membangun rumah yang tidak kalian tempati dan mengumpulkan harta yang tidak kalian makan.”

Ada suatu kisah: Pada suatu hari sekelompok utusan mendatangi Rasulullah saw. Mereka berkata: Kami adalah orang-orang yang beriman. Rasulullah saw bertanya: "Apa tanda keimanan kalian?" Mereka menjawab: "Kami bersabar ketika ditimpa bala’, bersyukur
ketika senang, ridha terhadap ketentuan takdir, dan tidak gentar ketika musuh datang.” Kemudian Rasulullah saw bersabda: "Jika kalian demikian, maka janganlah kalian mengumpulkan harta yang tidak kamu makan, janganlah kalian membangun rumah yang tidak kalian tempati, dan janganlah kalian berlomba-lomba terhadap apa yang akan kalian tinggalkan.” Di sini jelas bahwa zuhud menjadi bagian dari kesempurnaan iman.

Rasulullah saw bersabda:
"Barangsiapa yang zuhud di dunia, Allah akan memasukkan hikmah ke dalam hatinya, lalu ia mengucapkan dengan lisannya, memperkenalkan kepadanya penyakit dunia dan obatnya, dan mengeluarkannya dari dunia dengan selamat menuju ke kampung keselamatan.”

Ada suatu kisah: Pada suatu hari salah seorang isteri Rasulullah saw menangis karena menyaksikan Rasululah saw dalam keadaan lapar. Ia berkata kepada beliau: Ya Rasulullah, mengapa engkau tidak memohon kepada Allah agar Dia memberimu makanan? Rasulullah saw bersabda: "Demi Zat Yang menguasai diriku! Sekiranya aku memohon kepada Tuhanku agar gunung-gunung di dunia ini menjadi emas bagiku, niscaya Dia menjadikannya sebagaimana yang aku inginkan dari bumi ini. Tetapi aku memilih lapar di dunia ketimbang kenyang, fakir ketimbang kaya, sedih ketimbang senang. Sungguh dunia ini tidak layak bagi Muhammad dan Keluarga Muhammad. Sesungguhnya Allah tidak meridhai para Rasul Ulul ‘azmi, kecuali bersabar atas ketidaksukaannya pada dunia, bersabar untuk tidak mencintainya. Dan Dia juga tidak akan meridhaiku kecuali Dia memberi beban padaku sebagaimana beban yang diberikan kepada mereka. Kemudian Rasulullah saw menyampaikan firman Allah swt:
"Bersabarlah kamu seperti kesabaran rasul-rasul ulul-‘azmi.” (Al-Ahqaf: 35)
"Demi Allah, aku harus meneintai-Mu! Demi Allah, sungguh aku harus bersabar dengan kesungguhanku sebagaimana Ulul ‘azmi bersabar, dan tidak ada daya kecuali dengan kekuatan Allah."

Rasulullah saw bersabda:
"Barangsiapa yang merindukan surga, hendaknya ia bergegas pada kebajikan. Barangsiapa yang takut pada neraka, hendaknya ia tidak mencintai tuntutan-tuntutan syahwatnya. Barangsiapa yang menunggu kematian, hendaknya meninggalkan kelezatan. Dan barangsiapa yang zuhud di dunia, masibah-musibah duniawi akan menjadi ringan baginya.”

Rasulullah saw bersabda:
"Sesungguhnya Tuhanku Yang Maha Agung dan Maha Mulia telah menawarkan padaku untuk menjadikan bebatuan di sungai-sungai di Mekkah menjadi emas bagiku, lalu aku berkata: "Tidak, ya Rabbi! Tetapi jadikan aku orang yang lapar sehari dan kenyang sehari. Hari laparku akan kujadikan untuk merendahkan diri di hadapan-Mu dan berdoa kepadamu, dan hari kenyangku akan kujadikan untuk memuji-Mu dan bersyukur kepadaMu.”

Imam Ali bin Abi Thalib (sa) berkata:
"Manusia ada tiga macam: Manusia yang zuhud, manusia yang sabar, dan manusia yang cinta dunia. Orang yang zuhud adalah orang yang keluar dari hatinya bermacam-macam kesedihan dan kesenangan, sehingga ia tidak berbahagia karena mendapatkan dunia, dan tidak berduka karena kehilangan dunia, dialah orang yang hatinya damai. Orang yang sabar adalah orang yang hatinya mengharapkan dunia, tapi ketika mendapatkannya ia menjaga jiwanya dari keburukan dunia dan kehinaannya; dan sekiranya dunia itu masuk ke dalam hatinya, ia akan takjub karena kesuciannya, ketawadhuan dan kekokohannya. Adapun orang yang cinta dunia, ia tidak perduli dari mana datangnya dunia itu, itu halal atau haram, mengandung noda, merusak jiwa dan menghilangkan kewibawaannya; sehingga karena gejolak nafsunya banyak orang yang tersesatkan dan tergoncangkan.”

Imam Ali bin Abi Thalib (sa) berkata:
"Barangsiapa yang memadukan enam sikap, ia tidak akan mengharapkan surga dan tidak takut pada neraka: Mengenal Allah lalu mentaati-Nya, mengenal setan lalu menghindarinya, mengenal dunia lalu meninggalkannya, mengenal akhirat lalu mencarinya, mengenal kebathilan lalu menjauhinya, dan mengenal kebenaran lalu mengikutinya.”

Imam Muhammad Al-Baqir (sa) berkata dalam hadis qudsi:
Demi KemuliaanKu, KeagunganKu, KebesaranKu dan KeindahanKu! Tak akan berpengaruh pada seorang hamba yang beriman tuntutan nafsu pada keinginannya untuk mencintai urusan dunia kecuali Aku jadikan kekayaannya dalam jiwanya, cita-citanya pada akhiratnya. Aku jaminkan seluruh langit dan bumi untuk rizkinya, dan Aku berada di belakang perdagangan setiap orang yang berdagang.”

Imam Muhammad Al-Baqir (sa) juga berkata:
"Manusia yang paling besar kemampuannya adalah orang yang tidak memperoleh dunia yang telah ada di tangan orang lain. Barangsiapa yang mulia jiwanya, kecillah dunia di depan kedua matanya, dan barangsiapa yang hina jiwanya, besarlah dunia di depan kedua matanya.”

Disarikan dari kitab Jami’us sa’adat, penghimpun kebahagiaan, Syeikh An-Naraqi, jilid 2: 57-61.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar